Thursday, October 1, 2009

My Lovely Little Shazia


That moment is always there - in my heart. Waktu pertama saya lihat Shazia, rasanya seperti 'meledak'. Campur baur dan tidak jelas. Pengen nangis pengen ketawa, bahagia, terharu, takut tapi lega, tenggorokan sepeti tersumbat jantung deg-degan tapi juga terasa damai. All the things come to me at the same time. Lucunya, saat sedang hamil besar (udah lupa berapa bulan), saya sempat mimpi ketemu Shazia and guess what? She is exactly the same as my dream!
Ternyata menerima "amanah" ini merupakan sesuatu yang sangat besar bagi hidup saya. Dulu saya sempat bertanya dalam hati, apa saya mampu? Karena sejak dulu saya bukan pencinta anak. Selain itu, rasanya dari segi kedewasaan, saya merasa tidak terlalu berbeda dengan sewaktu saya masih kuliah dulu.Namun memang ALLAH MAHA TAHU. Bahkan tentu DIA sudah tahu sebelum saya tahu, bahwa saya sudah siap menjadi ibu. Beberapa hal yang dulu untuk saya almost impossible, sekarang setelah menjadi ibu, malah menjadi bagian dari diri saya. Dulu susah sekali bangun pagi di hari libur - juga di hari kerja biasa - sekarang malah waktu shazia tidur, saya tidak sabar menunggu pagi. Dulu kalau begadang, saya bisa sakit. Setelah ada Shazia, Alhamdulillah saya diberikan kesehatan yang baik, tidak sakit walaupun kurang tidur.Saya yang dulu tidak bisa menahan emosi alias very vey moody, jadi lebih bisa menahan diri. Mana mungkin saya mau menangis atau marah di depan Shazia yang sudah tertawa-tawa begitu melihat saya pulang kerja? Bahkan saya selalu berusaha menjaga hati dan pikiran saya agar tetap positif setiap kali saya di dekat Shazia karena menurut beberapa artikel yang saya baca, bayi sangat peka dengan aura dan suasana hati orang-orang di dekatnya. Tapi memang, yang orang-orang bilang bahwa anak merupakan obat yang paling mujarab, itu betul sekali. Setiap pulang kerja, capek dan stress langsung hilang entah kemana setiap lihat wajah cantik Shazia. Duh, what a miracle i have in my life.
Kalau dilihat secara fisik, memang Shazia masih sangat rentan, masih harus selalu dijaga dan dilindungi. Belum bisa makan sendiri, mandi sendiri, semua harus saya bantu. But truly, sebetulnya saya pikir, sayalah yang butuh Shazia. Sampai sekarang, saya selalu bersyukur karena diberi kepercayaan yang begitu indah. Mudah2an saya bisa mejadi yang terbaik dalam memunculkan semua yang terbaik dalam diri My Lovely Little Shazia.
There're still a long way to passed on, My Love...

No comments:

Post a Comment